Sang Mempelai
![]() |
| Pic from Google |
Kasih, lihatlah, betapa cantik
dan anggunnya aku dengan kebaya putih ini. Kau bilang, perempuanmu ini selalu
menawan dengan nuansa putih. Karena itu, kamar pengantin pun kupilih yang
bernuansa putih.
Setiap kutarik napas, aroma
melati *merunjam penciuman. Seiring tergesa ingatanku melayang padamu.
Ingatkah kau awal pertemuan kita?
Ketika itu, aku sedang menginap di rumah seorang teman dan kau datang menemui
kakak lelakinya. Aku tidak terlalu mempedulikanmu meskipun dari sudut mata
kutahu kau tak pernah lepas memandang.
Beberapa hari kemudian datang SMS
darimu. Tidak lama kau pun mulai menelepon. Kadang kita bicara berjam-jam
sampai baterai handphone salah satu dari kita lowbat.
Hubungan kita pun semakin
istimewa. Lima tahun lamanya kita bersama, sampai suatu hari kau putuskan
kembali ke kota kelahiran karena khawatir dengan ibumu yang telah menua dan
tinggal sendiri.
Aku sempat meragu untuk
meneruskan hubungan ini, tapi kau meyakinkan kalau cinta kita takkan tergoyahkan
oleh jarak.
Dan nyatanya, baru sebulan kau di
sana, segala pesan dan telepon darimu perlahan menghilang.
Sungguh, aku tak tahan lagi,
Kasih. Akhirnya kuberanikan diri bertanya. Saat itu, lama, baru kau jawab,
"ibu melarang aku untuk menikah dalam waktu dekat ini."
"Kita kan memang tidak
mungkin menikah dalam waktu dekat. " Kala itu aku masih bisa berseloroh.
"Bagiku, restu orangtua
diatas segalanya, Inka." Kutelan ucapmu yang menyembilu.
"Kau tidak berusaha untuk
hubungan kita?"
"Kalau jodoh pasti akan
bersatu."
"Tapi jodohmu harus kau
usahakan sendiri." Aku mulai meradang dalam tangis yang tertahan. Kudengar
kau menghela napas di seberang sana.
"Kita *istikharah saja,
ya." Pintamu akhirnya dengan suara yang *melindap.
Sejak itu, kulalui tiap malam dengan
istikharah dan *hajat. Meskipun menyerahkan semuanya pada Tuhan, tetap saja aku
berharap, kaulah yang kelak menjadi sandinganku.
Dan istikharah membawaku ke
ruangan ini, sekarang ....
Ibu membuka pintu kamar. Ia
tertegun haru melihat putrinya menjadi pengantin. Perlahan langkahnya mendekat.
"Cantik sekali, Nduk. Sudah
lama sekali, Ibu ingin melihatmu begini." Perempuan berkebaya merah muda
itu merapikan roncean melati di kerudungku.
Ada yang membuncah di sudut mata.
Kupeluk tubuh gemuk ibu. Airmata *lesap di balik bahunya.
"Aku tidak mau menikah, Bu
...." Kugigit bibir yang menggetar. Ibu *menepik punggungku.
"Mungkin ibu tidak bisa
mencarikan lelaki idaman untukmu, tapi percayalah, Nduk, Ibu berusaha mencari
yang terbaik untukmu." Entah kenapa, kali ini tidak kutemukan kedamaian di
balik pelukan wanita yang telah melahirkanku. Kulepaskan pelukan dan kubelokkan
pandangan. Enggan menatapnya.
"Hari ini, kamu boleh
membenci Ibu, tapi suatu hari nanti, kamu akan tertawa bila mengingatnya. Tidak
ada alasan menolak calon suamimu."
Airmata *mencelus lagi dari
tandan-nya.
Kasih, mengapa tak kutemukan kau
di setiap istikharahku ....
Merunjam : Menusuk
Melindap : Redup; samar; kurang
jelas
Istikharah : Sholat sunnah mohon
petunjuk diantara dua atau beberapa pilihan
Hajat : Sholat sunnah agar
dikabulkan harapan/keinginan/hajatnya
Lesap : Hilang; lenyap
Menepik : Menepuk
Mencelus : lepas

Komentar
Posting Komentar